Tampilkan postingan dengan label FIQH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIQH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Oktober 2012

Untukmu Wahai Saudariku Muslimah

Nasehat Indah Syaikh Shalih al-Fauzan Hafidzhahullah
Jilbab untuk berhias atau untuk menutupi perhiasan??


حكم لبس العباءة التي يوضع لها أكمام مثل الثوب ؟

: نص السؤا
انتشرت في الآونة الأخيرة عباءة يطلق عليها اسم : (العباءة الإسلامية) وهي توضع على الرأس ولكن لها أكمام من الذراع إلى الكتف فما رأي فضيلتكم في لبس مثل هذه العباءات ؟

          : الجواب
يا إخواني العباءة إنما وضعت للستر ولم توضع للزينة ليست لباس زينة ، ولا يجوز أن تتخذ للزينة ، أو أن تُطرَّز ، أو يوضع فيها نقوش ، أو يُفتح لها أكمام وتصبح كالثوب ، ما تصير عباءة ، تصير ثوب هذه
فالعباءة إنما هي للستر ، تستر جميع بدن المرأة  ، مثل الجِلال الكبير الذي هو الجلباب ، الغرض منها الستر وليس الغرض منها التزين ، بل الغرض منها ستر التزين أمام الرجال ، فلا يجوز التفنن في العباءات ، تسميتها إسلامية هذا للترويج  ، وإلا ليست إسلامية ، هذه للترويج فقط ، فالعباءة الإسلامية هي العباءة الساترة الضافية المتينة الخالية من النقوش والتطريزات والزينة ، تكون ساذجة [كذا] ما فيها شيء . نعم

Pertanyaan:

Akhir-akhir ini tersebar aba’ah ( jilbab ) yang dinamakan ‘Aba’ah Islamiyyah’ yang dikenakan dari atas kepala, akan tetapi ia memiliki lengan dari tangan sampai ke bahu. Bagaimana pendapat syaikh tentang memakai aba’ah semacam ini?

Jawaban:
Wahai Saudaraku, jilbab itu tujuannya untuk menutupi bukan untuk berhias, ia bukanlah perhiasan dan tidak boleh digunakan untuk berhias atau diberi bordir-bordir atau lukisan, atau dibuatkan lengan sehingga jadi seperti baju (lengan panjang). Yang seperti ini bukanlah jilbab tapi baju.

Jilbab itu tujuannya untuk menutupi, menutupi seluruh badan wanita, seperti selimut yang besar yaitu jilbab. Tujuannya adalah untuk menutupi dan bukan untuk berhias.

Bahkan tujuannya adalah untuk menutup diri dari berhias di hadapan laki-laki (ajnabi), maka tidak boleh menghiasi jilbab. Ia diberi embel-embel ‘Islami’ supaya laris, padahal ini tidak Islami! Ini hanya supaya laris saja.

Jilbab yang Islami itu adalah jilbab yang menutupi, lebar dan panjang serta tidak terdapat lukisan, bordiran dan hiasan-hiasan, jilbab Islami itu adalah yang sederhana dan tidak ada hiasan-hiasannya. Na’am.
Sumber :  http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node%2F3192

Jumat, 28 September 2012

Mengsikapi Film yang Menghina Nabi


Ulama senior di Kerajaan Saudi Arabia, sekaligus anggota Al Lajnah Ad Daimah (komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia), Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan mendapatkan pertanyaan dalam kajian harian beliau di daerah Malaz Riyadh, “Fadhilatusy Syaikh –waffaqakumullaah-. Pertanyaan yang masuk saat ini banyak sekali. Di antaranya, ada yang bertanya tentang bagaimana nasehat Anda bagi para penuntut ilmu dan juga selain mereka tentang apa yang terjadi saat ini berkaitan dengan film yang menghina Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. Apa wejangan Anda dalam hal ini?”
Beliau hafizhohullah menjawab,
Nasehat kami dalam hal ini adalah hendaknya kita tetap tenang dan tidak mengingkari hal ini dengan cara-cara (yang keliru) seperti dengan melakukan demonstrasi, menzholimi orang-orang yang tidak memiliki keterkaitan dengan hal ini, atau sampai merusak harta benda (orang lain). Ini adalah cara-cara yang tidak diperbolehkan. Yang wajib untuk membantah mereka sebenarnya adalah para ulama, bukan orang awam. Para ulamalah yang berhak membantah dalam perkara-perkara ini. Hendaknya kita senantiasa tenang.
Orang-orang kafir sebenarnya ingin mengganggu kita serta memancing amarah kita. Ini yang mereka inginkan. Mereka juga ingin agar kita saling membunuh. Aparat keamanan berusaha menghalang-halangi, sedangkan yang lain (para demonstran muslim) berusaha menyerang, sehingga terjadilah pemukulan, pembunuhan, dan banyak yang terluka. Mereka menginginkan hal ini. Hendaknya kita senantiasa tenang dan bersikaplah tenang. Yang berhak untuk membantah mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan bashirah, atau hendaknya mereka tidak perlu dibantah. Orang-orang yang membantah mereka juga tidak boleh disamaratakan.
Ingatlah, dahulu orang-orang musyrik berkata terhadap Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, "Penyihir, dukun, pendusta" dan perkataan hinaan lainnya. Namun, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar. Kaum muslimin ketika itu tidak melakukan demonstrasi di Mekkah, tidak menghancurkan sedikit pun dari rumah-rumah kaum musyrikin, juga tidak membunuh seorang pun. Sabar dan tenanglah sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala memudahkan jalan keluar bagi kaum muslimin.
Yang wajib dilakukan adalah tenang, khususnya saat ini, di saat munculnya banyak teror dan kejelekan di negeri-negeri kaum muslimin. Wajib untuk tenang dan tidak tergesa-gesa dalam masalah-masalah semacam ini. Orang-orang awam tidaklah pantas untuk menghadapinya. Mereka bodoh, tidak memahami hakikat masalah. Tidak boleh menghadapi masalah ini kecuali orang yang memiliki ilmu dan bashirah. Na'am.
[Fatwa Syaikhuna -Syaikh Dr. Sholih Al Fauzan- dalam sesi tanya jawab kajian Al Muntaqo (Jadd Ibnu Taimiyah) di Masjid Jaami' Mut'ib bin ‘Abdul ‘Aziz, Malaz, Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia pada hari Sabtu, 28 Syawal 1433 H. Soal ini dibacakan setelah adzan ‘Isya dari kajian tersebut].
Untuk melihat fatwa yang telah ditranskrip dalam bentuk tulisan, silakan lihat di sini.
Wallahu waliyyut taufiq.

Sumber: rumaysho.com.